Jawaban Seorang Gadis pada Guru yang melarang berhijab Seorang gadis kecil pulang dari sekolah. Setibanya di rumah, ibunya melihat anak putrinya dirundung kesedihan. Maka ia pun bertanya kepada putrinya itu tentang sebab kesedihannya. Anak: “Aduhai ibuku, sesungguhnya ibu guru telah mengancam akan mengusirku dari sekolah karena pakaian panjang yang kupakai.” Ibu: “Tetapi itu adalah pakaian yang dikehendaki oleh Allah, wahai putriku.” Anak: “Benar, wahai ibu, akan tetapi ibu guru tidak menghendakinya.” Ibu: “Baiklah, wahai putriku, guru itu tidak menghendaki, tetapi Allah meng¬hendakinya. Lalu siapakah yang akan kamu taati? Apakah kamu akan mentaati Allah yang telah menciptakanmu dan membentukmu, serta yang telah mengaruniakan kenikmatan kepadamu? Ataukah kamu akan mentaati seorang makhluk yang tidak mampu memberikan manfaat dan madharat kepada dirinya?” Anak: “Sesungguhnya saya akan taat kepada Allah.” Ibu: “Bagus, wahai putriku, kamu tepat sekali.” Pada hari berikutnya, g...
Postingan populer dari blog ini
Gaya hidupnya high class pun dicapai dengan paradigma Islami, juga dengan kerja keras dan merubah mindset orang kampung jadi Pengusaha Sukses.. Saya punya 1 halaqah yang terdiri dan anak-anak LIPIA, Mereka datangnya dari kampung, dari pesantren semuanya. Saya tahu mereka ini membawa background, di backmindnya itu ada psikologi orang kampung yang tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Saya tanya kamu nanti setelah selesai dari LIPIA mau kemana? Mereka bilang Insya Allah kita mau pulang ke kampung mengajar di Ma’had, mengajar Bahasa Arab, Suatu hari saya ajak mereka, hari ini tidak ada liqa’, tapi saya tunggu kalian di Hotel Mulia. Saya ada di suatu tempat dan mereka tidak melihat saya. Saya suruh mereka berdiri saja di lobby. Mereka datang pakai ransel karena mahasiswa datang pakai ransel, diperiksa lama oleh security. Karena penampilannya sebagai orang miskin dicurigai membawa bom. Saya lihat dari atas. Itu masalah strata, kalau antum datang pakai jas dan dasi tidak ada yang peri...
PERUBAHAN KE ARAH YANG LEBIH BAIK
Menjadi entrepreneur itu bukan sekadar ikut-ikutan. Entrepreneur itu tumbuh dengan kesadaran dan pola pikir untuk memberikan kontribusi pada sesama manusia dan lingkungan di sekitar kita. Bagi T.P. Rachmat, esensi dari jiwa entrepreneur itu adalah mindset untuk creating difference, menghadirkan perbedaan. Berikut ini gagasan-gagasan T.P. Rachmat dalam menghadirkan mindset creating difference dalam diri kita. Hadirkanlah Perbedaan Mindset yang juga harus dibangun adalah creating difference, menghadirkan perbedaan. Kita hidup dan menjalankan bisnis, tidak hanya untuk kesuksesan dan kepentingan diri sendiri, namun juga harus mendorong keberhasilan dan kesejahteraan banyak orang. Jauhi egoisme individual, berjuang untuk kepentingan lebih besar baik untuk organisasi, masyarakat, bangsa dan kepentingan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih luas. Untuk dapat menghadirkan perbedaan, belajar dan bekerja keras lah semaksimal mungkin. Saya mengilustrasikannya seperti lari maraton. Terus berlari, b...








Israel Biadab !!!!!
BalasHapus